Desa Wisata batik di Kampug Batik Giriloyo - Setelah masuk ke sana, berjajar workshop
pembuatan batik. Di salah satu rumah, seorang perempuan berjilbab coklat dan
baju dengan warna senada sedang sibuk meniupi canting. Usianya sekitar 40
tahun. Di hadapnya kain putih dengan berbagai motif batif batik terbentang. Ia
mengisi motif truntum dengan titik-titik di atas kain sepanjang satu meter itu.
Beberapa motif yang lain telah selesai. Namanya Imaroh. Bersamanya, tujuh
perempuan lain juga tengah membatik.
Hubungi Kami:
- Tlp/SMS: 085-729-269-403
- WA: 085-215-997-478
- BB : 5291-32F2
- Office: Dsn. Giriloyo – Ds. Wukirsari 02/20 -Kec. Imogiri – Kab. Bantul Yogyakarta
Desa Wisata Batik Giriloyo Yogyakarta Mereka duduk di atas dingklik kecil,
melingkar. Di depannya, kain putih membentang, kompor dan wajan kecil tempat
malam dilelehkan. Mereka tergabung dalam Kelompok Batik Sri Kuncoro. Selain Sri
Kuncoro terdapat empat belas kelompok pengrajin lain di Desa Wukirsari,
Imogiri, Bantul. Mereka tersebar di tiga dusun yaitu Giriloyo, Cengkehan, dan
Karang Kulon.”Terdapat 600 kepala keluarga yang menjadi pengrajin batik tulis,”
tutur Nur Ahmadi, ketua paguyuban kelompok pengrajin batik. Selain tergabung
dalam kelompok, ada juga pengrajin yang memiliki usaha individual, seperti
Sungsang dan Kusumo yang berdiri dekat Kampung Batik Giriloyo
![]() |
Desa Wisata di Kampung Batik Giriloyo |
Pada awal perkembangannya, pembatik
Giriloyo hanya membubuhkan malam sesuai motif. Batik mentah ini dikirim ke
pusat kota Jogja untuk proses pewarnaan hingga menjadi kain siap pakai. Baru
setelah terjadinya gempa Bantul 2006, kegiatan membatik di Giriloyo mulai
dilirik pemerintah dan pemangku kebijakan lain untuk dikembangkan dengan
serius. Kini, Giriloyo bisa memproses batik hingga kain jadi bahkan ada yang
hingga menjadi pakaian siap pakai.
Di Sri Kuncoro misalnya, seluruh unit untuk
memproduksi batik ada. Mulai dari tempat membuat pola hingga terakhir ruang
pajangan di mana kain yang jadi dipamerkan. Memasuki rumah itu, di teras
beberapa orang perempuan sedang mencanting. Ruangan di belakangnya difungsikan
untuk proses pewarnaan. Setelah diwarnai, kain itu diangin-anginkan supaya
warnanya meresap. Tambang dan jepitan kain warna-warni memenuhi ruangan ini. Di
bagian paling belakang, terdapat tungku dan beberapa panci besar untuk nglorot,
yang merupakan proses terakhir pembuatan batik. Batik yang telah selesai perlu
direbus untuk melepaskan malam yang menempel.
Hingga kini, Giriloyo masih mempertahankan
teknik tulis dan juga motif klasik khas Kraton Jogja. “Kami ingin membangun
brand sebagai sentra batik tulis,” kata Nur Ahmadi. Motif khas kraton jumlahnya
sangat banyak. Di antaranya, truntum, parang, sido asih, dan sido mukti.
Masing-masing motif memiliki nilai filosofisnya sendiri. Misalnya, truntum
berarti menuntun. Motif ini biasanya dipakai orang tua mempelai pengantin,
sebagai tanda telah menyelesaikan tugas menuntun anak mencapai gerbang
kehidupan yang baru. Ciri khas batik gaya Jogja juga terlihat dari penggunaan
warna dominan coklat, biru, dan putih.
Secara turun-temurun perempuan Giriloyo >>>Kampung Batik Giriloyo Yogyakarta <<< membatik. Regenerasi pembatik di Giriloyo, berjalan begitu saja. Imaroh mengaku
tidak pernah belajar secara khusus kepada orang tuanya cara membatik. “Hanya
karena sering melihat jadi bisa,” sambungnya. Seni membatik mengalir di darah
penduduk Giriloyo. Sekarang, pemerintah kabupaten mulai menyadari pentingnya
regenerasi dengan memasukkan aktivitas membatik sebagai muatan lokal wajib
mulai pendidikan dasar.
Masyarakat Giriloyo tetap membatik meskipun
menemui berbagai kendala. Misalnya, pangsa pasar yang terbatas pada kalangan
menengah atas dan juga ketersediaan bahan baku. Untuk merasakan eksotisme
wisata budaya di Giriloyo pengunjung bisa memilih beberapa paket wisata yang
ditawarkan paguyuban. Hanya dengan mengeluarkan uang Rp 25.000,00 pengunjung bisa
belajar membatik dan hasilnya bisa menjadi buah tangan istimewa. Pengunjung
akan mendapatkan kain berukuran sapu tangan beserta semua peralatan yang
diperlukan untuk membatik. Sementara, jika ingin menginap dan merasakan denyut
kehidupan Giriloyo yang asri cukup dengan membayar Rp 100.000,00.
Bila ingin ke Giriloyo, aksesnya mudah,
dari Terminal Penumpang Giwangan langsung menyusuri Jalan Imogiri Timur sejauh
kira-kira 15 km. Sepanjang jalan pengunjung akan disuguhi pemandangan hijau
yang menyegarkan mata, 30 menit tak akan terasa lama. Perjalanan ini bisa
ditempuh dengan kendaraan pribadi maupun umum.
Giriloyo menjadi tempat singgah yang nyaman
bagi para wisatawan. Di sini, wisatawan bisa merasakan kedamaian desa, hijaunya
sawah, jauh dari segala riuh kehidupan kota. Tak heran, wisatawan masih saja
menyempatkan waktu untuk pergi ke Giriloyo, belajar membatik, membeli batik, melihat proses
membatik, dan menikmati keasriannya. Menghayati alam sekaligus kebudayaan
manusia yang hidup berdampingan.
Desa Wisata di Kampung Batik Giriloyo Yogyakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar